Deteksi Pencemaran Air Sungai dengan BioIndikator Makrozoobentos (By Siswa SMAlAB UM)

Graphic1Penelitian ini dilakukan oleh; Ovan Denny, Bunga Anggraeni, Linggar Cindar Dewi, M Hilal, Widya Rahmawati (siswa SMA LAB UM kelas X.2)

dibimbing oleh: Pak Iqbal

1.1  latar Belakang

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air.

Pada penelitian kali ini, kami mengadakan penelitian di Sungai Brantas dengan menggunakan alat sederhana untuk mengambil sampel dan meneliti hewan bentos menggunakan penjepit, serta menghitung utnuk mengetahui tingkat pencemaran. Seperti diketahui, Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang yang melewati hampir sebagian besar wilayah Jawa Timur. Bersumber di Gunung Arjuno, Malang dan bermuara di Surabaya, sungai ini seolah menjadi bagian kehidupan masyarakat Jawa Timur. Namun sayang, kegunaannya sekarang lebih banyak digunakan sebagai tempat pembuangan limbah. Baik limbah rumah tangga, pertanian dan industri sebagai penyumbang limbah terbesar.

Sejatinya, pencemaran air merupakan tanggung jawab bersama. Meskipun demikian, ketegasan dan kejelasan peraturan juga dibutuhkan agar komitmen untuk menjaga kelestarian air sungai menjadi milik dan wewenang bersama.

 1.2  Rumusan Masalah

µ       Bagaimana cara mengukur tingkat pencemaran air sungai?

µ       Mengapa Indikator biologi lebih efektif daripada parameter fisika atau kimia?

µ       Bagaimana Makrozoobentos kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya?

1.3  Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas tujuan dari penelitian adalah :

  1. Mengetahui tingkat pencemaran air di kali brantas.
  2. Mengetahui alternatif pemecahan masalah yang dilakukan masyarakat untuk mengurangi tingkat pencemaran di kali surabaya.
  3. Mengetahui peran makrozoobentos sebagai petunjuk tingkat pencemaran air sungai Brantas.

1.4  Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah

1)      indikator biologis dapat memantau secara kontinyu. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora/fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut, sehingga bila terjadi pencemaran akan bersifat akumulasi atau penimbunan.

2)      Keanekaragaman flora dan fauna ekosistem sungai tinggi menandakan kualitas air sungai tersebut baik/belum tercemar. Tetapi sebaliknya bila keanekaragamannya kecil, sungai tersebut tercemar.

3)      Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan

1.5  Manfaat Penelitian

  1. Bagi Peneliti
  • Mengetahui penyebab pencemaran air sungai.
  • Mengetahui kualitas air sungai dengan makrozoobentos.
  • Dapat menghimbau nmasyarakat  tentang bahayanya pencemaran air sungai
  • Menumbuhkan rasa cinta pada alam lebih tinggi
  1. Bagi Masayrakat
  • Agar masyarakat lebih menjaga kelestarian lingkuang dan kualitas air sungai yang berguna dan bermanfaat untuk kebutuhan sehari – hari.
  • Jika air sungai terjaga kebersihannya tidak akan terjangkit penyakit
  • Supaya masyarakat menyadari pentingnya sungai
  1. Bagi Industri
  • Agar tidak membuang limbahnya pada aliran sungai brantas
  • Agar dapat mengelola limbah terlebih dahulu sebelum dibuang pada aliran sungai

Kajian Pustaka

2.1 Makrozoobentos

2.1.1 Makrozoobentos sebagai Indikator Perairan

Pada saat ini kesadaran akan lingkungan yang bersih dan aman sudah meningkat. Masalah pencemaran sudah menarik banyak kalangan,  mulai lapisan bawah sampai pejabat tinggi pemerintah.

Air merupakan subtrat yang paling parah akibat pencemaran. Berbagai jenis pencemar baik yang berasal dari sumber domestik (rumah-tangga, perkampungan, kota, pasar dan sebagainya) maupun sumber non-domestik (pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan serta sumber-sumber lain) banyak memasuki badan air. Secara langsung ataupun tidak langsung pencemar tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas air, baik untuk keperluan air minum, air industri ataupun keperluan lainnya.

Akibat semakin tingginya kadar buangan domestik memasuki badan air di negara yang sedang berkembang, maka tidak mengherankan kalau berbagai jenis penyakit, secara epidemik ataupun endemik berjangkit dan merupakan masalah rutin dimana-mana.

Dewasa ini beberapa negara maju seperti Perancis, Inggris dan Belgia melirik indikator biologis  untuk mementau pencemaran air. Bahkan sudah dikembangkan hukum mutu air biotik. Di Indonesia belum mempunyai baku mutu air indeks biotik, yang ada hanya baku mutu air untuk parameter fisika dan kimia.

Indikator Biologis digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi, khususnya ekosistem, akibat pengaruh limbah. Menurut Verheyen (1990), spesies yang tahan hidup pada suatu lingkungan terpopulasi, akan menderita stress fisiologis yang dapat digunakan sebagai indikator biologis.

Dibandingkan dengan menggunakan parameter fisika dan kimia, indikator biologis dapat memantau secara kontinyu. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora/fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut, sehingga bila terjadi pencemaran akan bersifat akumulasi atau penimbunan.

2.1.2 Diskripsi Makrozoobentos

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985), serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993).

Zoobentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik. Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan.

Berbagai jenis zoobentos ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang berperan sebagai konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat yang lebih tinggi. Pada umumnya, zoobentos merupakan makanan alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar (“bottom feeder”) (Pennak, 1978; Tudorancea, Green dan Hubner, 1978).

Berdasarkan ukurannya, zoobentos dapat digolongkan ke dalam kelompok zoobentos mikroskopik atau mikrozoobentos dan zoobentos makroskopik yang disebut juga dengan makrozoobentos. Menurut Cummins (1975), makrozoobentos dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3 – 5 mm pada saat pertumbuhan maksimum. APHA (1992) menyatakan bahwa makrozoobentos dapat ditahan dengan saringan No. 30 Standar Amerika. Selanjutnya Slack et all. (1973) dalam Rosenberg and Resh (1993) menyatakan bahwa makrozoobentos merupakan organisme yang tertahan pada saringan yang berukuran besar dan sama dengan 200 sampai 500 mikrometer.

Barnes and Hughes (1999) dan Nybakken (1997) menyatakan bahwa berdasarkan keberadaannya di dasar perairan, maka makrozoobentos yang hidupnya merayap di permukaan dasar perairan disebut dengan epifauna, seperti Crustacea dan larva serangga. Sedangkan makrozoobentos yang hidup pada substrat lunak di dalam lumpur disebut dengan infauna, misalnya Bivalve dan Polychaeta.

Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida (Cummins, 1975). Taksa-taksa tersebut mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam komunitas perairan karena sebagian dari padanya menempati tingkatan trofik kedua ataupun ketiga. Sedangkan sebagian yang lain mempunyai peranan yang penting di dalam proses mineralisasi dan pendaurulangan bahan-bahan organik, baik yang berasal dari perairan maupun dari daratan (Janto et all., 1981 dalam Nurifdinsyah, 1993).

Sebagai organisme dasar perairan, bentos mempunyai habitat yang relatif tetap. Dengan sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Komposisi maupun kelimpahan makrozoobentos bergantung pada toleransi atau sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kelimpahan makrozoobentos relatif tetap (APHA, 1992).

Gaufin dalam Wilhm (1975) mengelompokkan spesies makrozoobentos berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran. Organisme intoleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik. Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan kualitas. Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi ling-kungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran. Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup di perairan yang banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan. Organisme toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang berkualitas jelek. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah di perairan yang tercemar oleh bahan organik. Jumlah organisme intoleran, fakultatif dan toleran dapat menunjukkan derajat pencemaran.

Berdasarkan teori Shelford (Odum, 1993) maka makrozoobentos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit.

Metode Penelitian

            Rancangan Penelitian

Penelitian ini kami lakukan sekali, kami meneliti aliran sungai brantas yang ada di Malang apakah tercemar apakah tidak. Dengan cara mengumpulkan beberapa subjek dari sungai.

            prosedur penelitian

  • Tahap persiapan

Kami mengumpul dan di beri buku panduan. Setelah itu kami bersiap untuk turun ke sungai . setelah kami turun dari sungai kami melakukan beberapa bercobaan dengan cara mengumpulkan spesies yang ada dalam sungai tersebut.

 Tahap aklimasi

# memasukkan air dalam wadah tempat untuk spesies yang akan di tempatkan

# menaruh spesiies yang ditemukan dalam wadah

# mengamati spesies yang didapatkan

 Tahap penelitian

Kami semua melakukan penelitian di taman rekreasi kota malang(tarekot). Bertujuan untuk meneliti kualitas air sungai Berantas yang bertempat di bawah (tarekot) tersebut. Pertama-tama kami berkumpul di lapangan parkir bersama teman-teman yang lainnya.

Setelah di berikan pengarahan dari bpk.iQbal. kami semua langsung turun ke tempat sungai Berantas. Untuk melakukan sebuh penelitian pada sunai tersebut. Kami meneliti sungai tersebut di karenakan ingin mengetahui bahwa sungai Berantas tercemar oleh limbah yang berat atau tidak.

Setelah kami berada di lokasi tersebut, kami di bagi untuk di dampingi oleh kakak dari universitas Malang. Setelah itu kami mencari sampel untuk mendeteksi tingkat pencemarannya.

Tahap dokumentasi

#  mencatat besar arus sungai

#  mencatat lebar dan dalak sungai.

Waktu dan tempat penelitian

 Penelitiannya kami lakukan di sungai brantas, tepatnya di tarekot Malang pada tanggal 5 mei 2009.

Populasi dan sempel

Populasi yang kami dapatkan  seperci cacing merah. Ulat, kepiting, keong dan laionnya.  Sempel yang digunakan berdasarkan spesies apa saja yang ditemukan dan jumlah spesies yang ada.

Instrumen dan penelitian

Adapun alat yang digunakan pada proyek ini antara lain :

µ       Kain kassa

µ       Penjepit

µ       Lup

µ       Wadah kecil

µ       Pinset

µ       sendok

Pengumpulan data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan observasi secara langsung yaitu dengan meneliti langsung ke tempat  penelitian.

PEMBAHASAN

DAS BRANTAS

Sungai Brantas memiliki arti penting bagi Provinsi Jawa Timur sebagai sumber air bagi kelangsungan hidup masyarakatnya. Sungai ini melintasi 15 wilayah di Provinsi Jawa Timur, yaitu Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, Kabupaten/Kota Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten/Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang, Kabupaten/Kota Mojokerto, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Surabaya. Sumber air Sungai Brantas berada di kaki Gunung Arjuno. Sepanjang pengalirannya, Sungai Brantas dimanfaatkan sebagai sumber air bagi penyediaan air minum, pertanian, perikanan, perindustrian, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

PARAMETER KUALITAS AIR

 Untuk menjamin kualitas air yang dinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan kualitas air pada:

Sumber yang terdapat di dalam hutan lindung; mata air yang terdapat di luar hutan lindung; dan akuifer air tanah dalam. Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang termasuk dalam parameter fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan sebagainya.

Parameter kimia menyatakan kandungan unsur/senyawa kimia dalam air, seperti kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD, COD, TOC), mineral atau logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan, dan sebagainya

Parameter mikrobiologis menyatakan kandungan mikroorganisme dalam air, seperti bakteri, virus, dan mikroba pathogen lainnya.Berdasarkan hasil pengukuran atau pengujian, air sungai dapat dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar. Sebagai acuan dalam menyatakan kondisi tersebut adalah baku mutu air.

Indikator Biologis digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi, khususnya ekosistem, akibat pengaruh limbah. Menurut Verheyen (1990), spesies yang tahan hidup pada suatu lingkungan terpopulasi, akan menderita stress fisiologis yang dapat digunakan sebagai indikator biologis.

Dibandingkan dengan menggunakan parameter fisika dan kimia, indikator biologis dapat memantau secara kontinyu. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora/fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut, sehingga bila terjadi pencemaran akan bersifat akumulasi atau penimbunan.

Di samping itu, indikator biologis merupakan petunjuk yang mudah untuk memantau terjadinya pencemaran. Adanya pencemaran lingkungan, maka keanekaragaman spesies akan menurun dan mata rantai makanannya menjadi lebih sderhana, kecuali bila terjadi penyuburan.

Flora dan fauna yang dapat dijadikan indikator biologis pencemaran sungai dapat diamati dari keanekaragaman spesies, laju pertumbuhan struktur dan seks ratio.

Keanekaragaman flora dan fauna ekosistem sungai tinggi menandakan kualitas air sungai tersebut baik/belum tercemar. Tetapi sebaliknya bila keanekaragamannya kecil, sungai tersebut tercemar.

Indikator biologis pencemaran sungai harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

a.            Mudah diidentifikasi

b.           Mudah dijadikan sampel, artinya tidak perlu bantuan operator khusus, maupun peralatan yang mahal dan dapat dilakukan secara kuantitatif.

c.            Mempunyai distribusi yang kosmopolit.

d.           Kelimpahan suatu spesies dapat digunakan untuk menganalisa indeks keanekaragaman.

e.            Mempunyai arti ekonomi sebagai sumber penghasilan (seperti ikan), atau hama/organisme penggangu (contoh : algae)

f.             Mudah menghimpun/menimbun bahan pencemar.

g.            Mudah dibudidayakan di laboratorium.

h.            Mempunyai keragaman jenis yang sedikit.

Yang perlu diperhatikan dalam memilih indikator biologi adalah tiap spesies mempunyai respon terhadap pencemaran yang spesifik.

Ikan sulit digunakan sebagai indikator populasi. Lebih mudah menggunakan spesies air lain yang tidak lincah geraknya.

Hasil penelitian Moch. Affandi (1990), hewan bentos makro dan spesies Tubitex Sp dan Malainoides tuberculate merupakan spesies indikator adanya oksigen terlarut (DO) yang rendah dan partikel tersuspensi yang tinggi pada ekosistem perairan sungai.

Alga hijau biru (Microytis sp) meningkat bila perairan banyak dicemari pupuk Nitogen (N). Pencemaran phosphat (PO4) meningkat dapat dilihat dengan meningkatnya kehadiran Alga Hijau Biru (Anabaena sp).

Eceng gondok (Eichornia crassoper) merupakan indikator pencemaran organik. Kekeruhan dan padatan tersuspensi meningkat dapat dilihat dengan menurunnya indikator bentosialter feeders Hydrosyche dan simulium.

Beberapa tingkat pencemaran bahan organik dalam air tawar dan fauna makroinvertebrata sebagai indikator bilogi :

-                 Limbah organik yang sangat pekat (DO pada taraf nol) fauna invertebrata hanya golongan cacing dari golongan Tubifex dan Limnodrillus.

-                 Kalau kondisi air lebih baik, maka hewan golongan cacing tersebut akan diikuti oleh larva Chrinomous (cacing darah).

-                 Pada zona air yang sudah pulih spesies yang khas adalah Asellus aquaticus di samping Chironomus, tetapi ada pula makroinvertebrata seperti Lintah dan Moluska.

Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya.  Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah (Oey, et al1., 1978).  Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro.  Kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993).

 

Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.  Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos.  Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar ((Allard and Moreau, 1987); APHA, 1992). 

 

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993).  Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985), serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993). 

Berdasarkan ukurannya, zoobentos dapat digolongkan ke dalam kelompok zoobentos mikroskopik atau mikrozoobentos dan zoobentos makroskopik yang disebut juga dengan makrozoobentos.  Menurut Cummins (1975), makrozoobentos dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3 – 5 mm pada saat pertumbuhan maksimum.  APHA (1992) menyatakan bahwa makrozoobentos dapat ditahan dengan saringan No.  30 Standar Amerika.  Selanjutnya Slack et all.  (1973) dalam Rosenberg and Resh (1993) menyatakan bahwa makrozoobentos merupakan organisme yang tertahan pada saringan yang berukuran besar dan sama dengan 200 sampai 500 mikrometer.

Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida (Cummins, 1975).  Taksa-taksa tersebut mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam komunitas perairan karena sebagian dari padanya menempati tingkatan trofik kedua ataupun ketiga.  Sedangkan sebagian yang lain mempunyai peranan yang penting di dalam proses mineralisasi dan pendaurulangan bahan-bahan organik, baik yang berasal dari perairan maupun dari daratan (Janto et all., 1981 dalam Nurifdinsyah, 1993).

Penggunaan makrozoobentos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi.  Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar.  Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak tercemar.  Kemudian oleh para ahli biologi perairan, penge-tahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas per-airan (Abel, 1989; Rosenberg and Resh, 1993).

Metode kualitatif tertua untuk mendeteksi pencemaran secara biologis adalah sistem saprobik (Warent, 1971) yaitu sistem zonasi pengkayaan bahan organik berdasarkan spesies hewan dan tanaman spesifik.  Hynes (1978) ber-pendapat bahwa sistem saprobik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain kurang peka terhadap pengaruh buangan yang bersifat toksik.  Tidak ditemukannya makrozoobentos tertentu belum tentu dikarenakan adanya pencemaran organik, sebab mungkin dikarenakan kondisi fisik perairan yang kurang mendukung kehidupannya atau kemunculannya dikarenakan daur hidupnya (Hawkes, 1979). 

Keragaman jenis disebut juga keheterogenan jenis, merupakan ciri yang unik untuk menggambarkan struktur komunitas di dalam organisasi kehidupan.  Suatu komunitas dikatakan mempunyai keragaman jenis tinggi, jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi dan sebaliknya keragaman jenis rendah jika hanya ter-dapat beberapa jenis yang melimpah.

Indeks keragaman jenis (H’) menggambarkan keadaan populasi organisme secara matematis, untuk mempermudah dalam menganalisa informasi-informasi jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas.  Diantara Indeks ke-ragaman jenis ini adalah Indeks keragaman Shannon – Wiener.

Perbandingan antara keragaman dan keragaman maksimum dinyatakan se-bagai keseragaman populasi, yang disimbulkan dengan huruf E.  Nilai E ini berki-sar antara 0 – 1.  Semakin kecil nilai E, semakin kecil pula keseragaman populasi, artinya penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak sama dan ada kecenderungan satu spesies mendominasi, begitu pula sebaliknya semakin besar nilai E maka tidak ada jenis yang mendominasi. 

KESIMPULAN DAN SARAN 

Kesimpulan

            Kesimpulan dari artikel diatas adalah Pencemaran tersebut terjadi karena semakin banyaknya industri-industri dan pabrik-pabrik yang berdiri yang sebagian besar limbahnya dibuang ke sungai Brantas. Makrozoobentos yang kami amati dengan teman sekelas enunjukkan tingginya pencemaran di sungai brantas.

Saran

Saran kami untuk perihal diatas adalah :

¥       Indonesia bisa menciptakan indikator yang lebih baik dan akurat untuk mendeteksi tingkat pencemaran

¥       Masyarakat lebih paham akan kebersihan kali di tempat tinggalnya.

¥       Ada penanganan cepat dari masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan atau memulihkan kali yang tercemar

¥       Pemberian sanksi dan denda kepada pihak industri, pabrik, maupun masyarakat apabila limbah yang dibuang ke Kali Brantas belum memenuhi standart.

Daftar Pustaka 

Anonim a1. Tanpa tahun    http://www.acehpedia.org/Proses_Hidrologi  diakses tanggal 28 mei 2009

 Anonim b Tanpa tahun http://journal.um.ac.id/index.php/pendidikan-nilai/article/view/1922   Diakses tanggal 28 mei 2009

 Anonim c Tanpa tahun http://wikantika.wordpress.com/2008/04/25/deteksi-pencemaran-air/  Diakses tanggal 28 mei 2009

 Anonim d Tanpa tahun http://smk3ae.wordpress.com/2008/06/09/makrozoobentos-indikator-perairan-air-tawar/ Diakses tanggal 28 mei 2009

 Anonim e Tanpa tahun http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=1969 Diakses tanggal 28 mei 2009

4 Balasan ke Deteksi Pencemaran Air Sungai dengan BioIndikator Makrozoobentos (By Siswa SMAlAB UM)

  1. adi mengatakan:

    trims,

  2. Wahyu Anakadjaib mengatakan:

    Kutipannya kok gak ada di daftar pustaka,, nanti dituntut orang lhoo udah ngejiplak karya tulis orang tanpa izinn…

  3. KETUT JULIANTARA mengatakan:

    cukup bagus..
    tapi.. Saya rasa, banyak keanehan/ kejanggalan dari karya tulis ini,,, metode penelitiannya pun tidak terstruktur dengan baik dan banyak bahasa yang tidak baku….
    hasil penelitian tidak ditampilkan dan tidak dikaji serta dianalisis… sebagian besar hanya copy paste teori…
    itu pendapat saya..

  4. Peduli Pendidikan mengatakan:

    info yang sangat bagus….. trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: